JURNAL “PERBEDAAN PENGARUH LASER DAN MLDV (MANUAL LYMPH DRAINAGE VODDER)PADA KONDISI ACNE VULGARIS WANITA”

BAKSOS MLDV
February 16, 2019
MLDV COURSE 2015
February 16, 2019
Show all

JURNAL “PERBEDAAN PENGARUH LASER DAN MLDV (MANUAL LYMPH DRAINAGE VODDER)PADA KONDISI ACNE VULGARIS WANITA”

PERBEDAAN PENGARUH LASER DAN MLDV (MANUAL LYMPH
DRAINAGE VODDER)PADA KONDISI ACNE VULGARIS WANITA
Futi Nurul Destya 1 , Muthiah Munawwarah 2 , Miranti Yolanda 3
1 Fakultas Fisioterapi Universitas Esa Unggul, Jakarta
2 Dosen Universitas Esa Unggul Fakultas Fisioterapi, Jakarta
3 Dosen Universitas Esa Unggul Fakultas Fisioterapi, Jakarta

futindestya@yahoo.com
Abstrak

Tujuan : Untuk mengetahui efektifitas laser dan MLDV terhadap penurunan tingkat derajat
keparahan acne vulgaris pada wanita.Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian
eksperimental untuk mengetahui efek suatu intervensi yang dilakukan terhadap obyek
penelitian. Sampel terdiri dari 12 orang wanita (remaja usia 18-25 tahun), dan dipilih
berdasarkan teknik purposive sampling sesuai kriteria. Sampel dikelompokkan menjadi dua
kelompok perlakuan, yaitu kelompok perlakuan I terdiri dari 6 orang dengan diberikan
intervensi laser sedangkan pada kelompok perlakuan II terdiri dari 6 orang dengan diberikan
intervensi MLDV. Hasil : uji hipotesis pada perlakuan I rerata sebelum adalah 38,17±5,154,
rerata sesudah adalah 2,00±2,757 dengan paired sampel t-test, didapatkan nilai p=0,000
yang berarti laser dapat menurunkan tingkat keparahan acne vulgaris pada wanita. Pada
perlakuan II rerata sebelum adalah 36,33±4,761, rerata sesudah adalah 12,67±2,944
dengan paired sampelt-test didapatkan nilai p=0,000 yang berarti yang berarti MLDV dapat
menurunkan tingkat keparahan acne vulgaris pada wanita. Uji hipotesis III rerata perlakuan I
adalah 16,50±5,128, rerata perlakuan II adalah 23,83±2,639 dengan t-test independent
menunjukkan nilai 0,011 yang berarti ada perbedaan penurunan tingkat keparahan acne
vulgaris pada wanita. Kesimpulan : Intervensi Laser dan MLDV efektif dalam menurunkan
tingkat derajat keparahan acne pada wanita. Namun intervensi MLDV lebih baik dalam
menurunkan tingkat derajat keparahan acnevulgaris pada wanita.
Kata Kunci : Acne, Laser, MLDV.

Abstract

Objective : To determine the effectiveness of laser and MLDV to decrease the level of severity acne vulgarisin women.Method : This study is an experimental study to determine the effects of interventions to research object. The sample consisted of 12 women (adolescents aged 18-25 years), and are selected based on purposive sampling technique. Samples were divided into two treatment groups, the first treatment group consisted of 6
people with a given intervention of laser, while the treatment group II consisted of 6 people with a given intervention of MLDV. Results : hypothesis testing in treatment I mean before it was 38,17±5,154, after the average was 2,00±2,757 with related t-test p value = 0,000 which means laser can decrease the level of severity acne vulgaris in women. On average before treatment II was 6,33±4,761, after the average was 2,67±2,944 with related t-test p value = 0,000 which means MLDV can decrease the level of severity acne vulgaris in women. III hypothesis testing I mean treatment was16,50±5,128, mean treatment II was 23,83±2,639 with independent t-test showed the value of 0,011 which means there are differences decrease the level of severity acne vulgarisin women. Conclusion : Intervention
Laser and MLDV are affective to decrease the level of severity acne vulgarisin women. However, MLDV better to decrease the level of severity acne vulgarisin women.
Keywords : Acne, Laser, MLDV.

Pendahuluan
Kecantikan merupakan sebuah
kebutuhan primer bagi kaum wanita.Tampil
cantik bagi wanita merupakan sebuah
tuntutan untuk menunjang sikap percaya
diri dalam setiap aktivitas.Kaum wanita
menganggap kecantikan saat ini menjadi
suatu barang mewah untuk diperoleh.Pada
dasarnya kecantikan dibagi menjadi dua
bagian yaitu, pertama kecantikan
bersumber dari dalam dan kedua
kecantikan bersumber langsung pada
bentuk fisik.Kecantikan dari segi bentuk
fisik kini menjadi populer di masyarakat
sehingga menciptakan banyak solusi atau
alternatif untuk mendapatkannya.
Memiliki kulit normal dan mulus
adalah idaman setiap wanita.Kulit normal
ditandai dengan permukaan yang lembut,
sintal dan pori pori sedang. Kulit normal
memiliki elastisitas yang bagus, lembut,
dan padat saat disentuh.Kulit normal
memiliki kandungan air dan minyak yang
seimbang, sehingga kelembapannya

terjaga dengan baik.Pada dasarnya tidak
semua wanita dianugrahi kulit yang
normal.Terdapat banyak wanita yang
tampil tidak percaya diri dan tidak nyaman
karena memiliki kulit yang tidak normal
pada wajah salah satunya acne vulgaris.
Acne vulgaris adalah kelainan
folikuler umum yang mengenai folikel
pilosebae (folikel rambut) yang rentan dan
paling rentan dan paling sering ditemukan
didaerah muka, leher, serta badan bagian
atas. Acne ditandai dengan komedo
tertutup (whitehead), komedo terbuka
(blackhead), papula, pustula, nodus, dan
kista (Smeltzer & Bare, 2002).
Patofisiologi Acne Vulgaris
Ada empat hal yang erat hubungannya
dengan patofisiologi acnevulgaris, yaitu:
1) Peningkatan produksi sebum
Menurut Kligman sebum ibarat
minyak lampu pada acne, ini berarti tidak
mungkin terjadi akne tanpa sebum.Plegwig
berpendapat bahwa ditemukan hubungan

yang selaras antara peningkatan produksi
sebum, permulaan acne pada masa
pubertas dan berat ringannya
acne.Hormon Androgen yang secara nyata
meningkat produksinya pada permulaan
pubertas dapat menyebabkan pembesaran
dan peningkatan aktifitas kelenjar
sebaceus. Produksi sebum yang meningkat
akan disertai peningkatan unsur
komedogenik dan inflamatorik penyebab
lesi acne.
2) Penyumbatan keratin di saluran
pilosebaseus.
Penyumbatan dimulai di
infrainfundibulum, yang lapisan
granulosumnya lebih tebal dengan glikogen
yang lebih banyak.Proses keratinisasi ini
dirangsang oleh androgen, sebum, asam
lemak bebas dan skualen yang bersifat
komedogenik.Masa keratin yang terjadi
ternyata berbeda dengan keratin
epidermis. Masa keratin folikel sebasea
lebih padat dan lebih lekat, sehingga lebih
sulit terlepas satu dengan yang lainnya,
mengakibatkan proses penyumbatan lebih
mudah terjadi. Proses penyumbatan
akanlebih cepat bila ada bakteri atau ada
proses inflamasi. Aliran sebum akan
terhalang oleh hiperkeratinisasi folikel
sebasea, maka akan terbentuk
mikrokomedo yang merupakan tahap awal
dari lesi akne yang bisa berkembang
menjadi lesi inflamasi maupun non
inflamasi (Hartadi, 1992).
3) Abnormalitas mikroorganisme di
saluran pilosebaseus
Bakteri mempunyai peranan dalam
terjadinya akne.Ditemukan tiga kelompok
besar mikroorganisme pada kulit penderita
acne, yaitu Propionilbacterium acne,
Staphylococcus epidermidis, dan satu
golongan fungus adalah Pityorosporum
ovale.Mikroflora kulit dan saluran
pilosebaseus penderita akne jauh lebih
banyak daripada yang terdapat pada orang
sehat.Di antara mikroflora tersebut yang

paling penting adalah Propionilbacterium
acne yang mengeluarkan bahan biologik
tertentu seperti bahan menyerupai
prostaglandin, lipase, protease, lecithinase,
neuramidase dan hialuronidase. Pada
penderita akne, kadar asam lemak hebas,
skualen dan asam sebaleik di permukaan
kulit meningkat. Skualen dan asam lemak
bebas bersifat komedogenik.Beberapa
asam lemak bebas mengiritasi
infrainfundibulum.Asam lemak bebas yang
ada dipermukaan kulit berasal dari hasil
lipolisis trigliserida berbagai lemak oleh
kuman Propionilbacteriurn Aknes (Cunliffe
WJ, 1989).
4) Proses inflamasi
Diduga disebabkan oleh dua faktor,
yaitu faktor immunologik dan non
immunologik.Persoalan immunologik acne
adalah karena serbuan leukosit PMN dan
limfosit ke kelenjar sebasea karena
diundang oleh sinyal kemotaktik
Propionilbacterium acne untuk masuk ke
dalam lumen folikel sebasea. Setelah
leukosit PMN masuk ke dalam lumen, maka
akan memfagosit Propionilbacterium acne
dan mengeluarkan enzim hidrolitik yang
akan merusak dinding folikel dan ruptur
sehingga isi folikel (lipid dan keratin)
masuk ke dalam dermis sehingga
mengakibatkan inflamasi (Hasan L, 1984).
Sedangkan faktor non immunologik yang
penting adalah asam lemak bebas,
protease dan bahan yang menyerupai
prostaglandin yang dapat mencapai
jaringan sekitar unit pilosebaseus secara
difusi, kemudian menyebabkan terjadinya
proses inflamasi.
Laser
a) Definisi
Laser (Light Amplification by Stimulated
Emission of Radiation) merupakan
mekanisme suatu alat yang memancarkan
radiasi elektromagnetik, biasanya dalam
bentuk cahaya yang tidak dapat dilihat

maupun dapat dilihat dengan mata normal,
melalui proses pancaran terstimulasi.
Pancaran laser biasanya tunggal,
memancarkan foton dalam pancaran
koheren
b) Mekanisme Laser terhadap acne
Foton dari photoreseptor akan
menstimulasi mitochondria yang membuat
fasilitasi respon salah satunya peningkatan
ATP, kemudian terjadi stimulasi dari
transfer elektron yang menyebabkan
terjadinya peningkatan sel metabolisme,
peningkatan permeabilitas sel membran,
dan akan meningkatkan fagositosis
sehingga P.acne yang ada di kulit akan
berkurang. Dengan meningkatnya ATP
terjadi peningkatan sintesis protein,
peningkatan proliferasi sel dan peningkatan
aktifitas enzim yang menghasilkan
perbaikan jaringan kulit pada
acne.Stimulasi mitochondria juga membuat
respon inhibisi yang dapat mengurangi pH
intrasel sehingga menurunkan produksi
COX yang menyebabkan penurunan
inflamasi pada acne akibat P.acne.
Stimulasi dari mitochondria juga
menyebabkan efek tidak langsung
sehingga terjadi peningkatan aliran darah
kemudian peningkatan sirkulasi aliran limfe
dan menghasilkan deposisi jaringan
granulasi yang dapat menurunkan
inflamasi dari acne.
c) Dosis
Metode penggobatan yang dilakukan
adalah metode tanpa menyentuh kulit (non
invansive) dengan 630nm, Intensitas: 3
J/cm 2, Waktu : pedoman waktu 1
menit/cm 2, Frekuensi terapi 2 kali seminggu
sebanyak 6x.
MLDV (Mannual Lymph Drainage
Vodder)
a) Definisi
MLDV adalah merupakan tehnik
massage baru yang ditujukan pada sistem

limfe, vena dan cairan interstitial untuk
menghilangkan stagnasi cairan di jaringan
dan meningkatkan aliran cairan tubuh.
MLDV ditandai dengan massage
rotasi lambat dan gerakan memompa
dengan hati-hati menggunakan tangan dan
ibu jari, sehingga merangsang sirkulasi
limfe melalui organisme.
b) Mekanisme MLDV terhadap acne
Dengan menstimulasi aliran
pembuluh vena dan limfe secara maksimal
melalui teknik MLDV yang soft dan gentle
maka MLDV disini dapat bekerja dengan
cara mendekatkan jarak antara pembuluh
darah dengan sel minimal jarak 1/10 nm,
agar terjadi splitsing. Sehingga membran
sel terbuka, akibatnya memungkinkan
protein masuk ke dalam sel jika protein
masuk ke dalam sel maka akan terjadi
sintesa protein, dengan menghisap cairan
sehingga terjadi metabolisme yang
menyebabkan regenerasi sel pada kulit
wajah.
MLDV juga dapat meningkatkan
imunitas dimana saat pemberian MLDV
kelenjar limfe bekerja secara aktif
membawa bakteri menuju ke nodus
limfatikus, di dalam nodus limfatikus terjadi
proses fagositosis. dengan memfagositosis
bakteri, saat bakteri masuk dengan sitem
limfe bakteri tersebut dialirkan ke nodus
yang bersifat untuk membunuh bakteri,
Limfosit terdiri dari atas Limfosit T (sel)
dan Limfosit B (sel) keduanya dihasilkan
oleh sumsum tulang dan dan diedarkan ke
seluruh tubuh melalui pembuluh darah,
dan menghasilkan antibodi yang
disesuaikan dengan antigen yang masuk ke
dalam tubuh. Sel B akan matang di limfa
nodus dan Sel T matang di kelenjar
thymus. Sel T disini membunuh p.acne.Sel
pembunuh menghasilkan imunitas yang
disebabkan sel. Sel pembantu dapat
mengaktivasi Sel B merespon terhadap
antigen.Sel B menggandakan diri,
membentuk klon-klon sel plasma yang

mensekresikan antibodi (Antibodi berikatan
dengan mikroorganisme untuk
membunuhnya, Sel B tidak terlihat secara
langsung) membentuk imunitas humoral
menjadi sel memori. Pada akhirnya bakteri
mati dan tidak berkembang memperparah
derajat acne vulgaris juga sistem imunitas
meningkat.
Menstimulasi sistem saraf yaitu
parasimpatis.Cara kerja parasimpatis
impuls melewati saraf parasimpatik dengan
sistem dua neuron. Neuron yang pertama
preganglionik dan yang kedua disebut post
ganglionik. Neuron akan menjalar melalui
beberapa sel saraf yang dihubungkan
dengan sinapsis. Pada sinapsis dalam
ganglia, neuron preganglionik melepaskan
asitelkolin, sebuah neurotransmitter yang
mengaktifkan nicotinic
acetylcholin.kemudian mencapai organ dan
kelenjar target yaitu kelenjar subacea.
MLDV juga membantu
menyeimbangkan homon androgen dengan
cara menstimulasi kerja dari hormon
kepala pituitary gland dan mengaktifkan
sistem saraf dari pituitary gland sehingga
dapat menyeimbangkan kerja hormon di
otak. Selain itu MLDV memiliki peran
membawa cairan makromolekul untuk
dialirkan kembali ke jantung pada sistem
pencernaan akan terjadi proses
memperbaiki kerja dari usus halus dan
usus besar sehingga jika sistem
pencernaan baik sistem nutrisi ke jaringan
akan lebih baik.
c) Dosis
Frekuensi terapi 2 kali seminggu sebanyak
6 minggu.
Min
ggu

Teknik MLDV
1 Basic, Abdomen
2 Basic, Abdomen
3 Basic, Abdomen
4 Basic, Abdomen, Face, dan
Pallatum

5 Basic, Abdomen, Face, dan
Pallatum
6 Basic, Abdomen, Face, dan
Pallatum

Metode Penelitian
Secara metodologis penelitian ini
bersifat quasi eksperimental dengan
melihat adanya korelasi sebab akibat pada
kedua kelompok perlakuan dari obyek
penelitian.Perlakuan yang diberikan adalah
Laser dengan MLDV terhadap penurunan
acne vulgaris pada wanita. Desain
penelitian yang digunakan adalah pre test
dan post testcontrol group design. Dimana
dalam penelitian ini digunakan dua
kelompok penelitian untuk dilakukan
analisis komparatif independent.
Pada penelitian ini subyek berjumlah 12
orang yang terbagi dalam dua
kelompok.Kelompok pertama berjumlah 6
orang yang diberikan Laserdan kelompok
kedua berjumlah 6 orang yang diberikan
MLDV.Adapun tujuan dari penelitian ini
yaitu untuk mengetahui pengaruh
perbedaan Laser dan MLDV terhadap
penurunan keprahan acne vulgaris.Pada
kedua kelompok ini dilakukan pengukuran
menggunakan GAGS (Global Acne Grading
System) untuk mengetahui peningkatan
kelincahan.
Besaran sample penelitian yang
diteliti adalah dengan menggunakan rumus
poccok (2008) sebagai berikut :
2 σ 2

n = x ƒ(α,β)
( µ 2 – µ 1 ) 2
Keterangan :
σ = standar deviasi
α = tingkat kesalahan I
β = tingkat kesalahan II
µ 1 = rerata skor pre test
µ 2 = rerata skor post test
f(α,β)= nilai pada tabel (7,9)

n = 2 (12,7) 2 x 7,9
( 6,3-27,7) 2
322,58 x 7,9
457,96

= 5,56 dibulatkan menjadi 6 orang per
kelompok
Berdasarkan penelitian terdahulu
oleh Mir Hadi Aziz-Jalali (2012) dalam
Comparison of Red and Infrared Low Level
laser Therapy in the treatment of Acne
Vulgaris”dengan standar deviasi (σ) 12,7,
µ 1 = 12,9 , µ 2 = 12,3 besar sampel (n) =
5,56 dibulatkan menjadi 6. Jadi jumlah
sampel yang diperlukan sebanyak 12 orang
dengan jumlah 6 orang pada masing-
masing kelompok.
Kelompok Perlakuan I
Pada kelompok perlakuan 1 ini,
sampel subyek penelitian ini diberikan
Laser sebanyak 12 kali latihan dengan
frekuensi seminggu 2 kali selama 6
minggu. Sebelum latihanpada kelompok ini
dilakukan pengukuran jumlah acne dengan
menggunakan GAGS, kemudian diberikan
Laser. Selanjutnya dilakukan evaluasi
kembali di akhir pertemuan (setelah 12
kali).
Kelompok Perlakuan II
Pada kelompok perlakuan II ini
subjek penelitian diberi Manual Lymphe
Drainage Vodder (MLDV) 12 kali dengan
frekuensi 2 kali seminggu. Sebelum
perlakuan dilakukan pengukuran jumlah
acne dengan menggunakan GAGS,
kemudian diberikan Manual Lymphe
Drainage Vodder (MLDV). Selanjutnya
dilakukan evaluasi kembali di akhir
pertemuan (setelah 12 kali).
Hasil Pembahasan
Sampel penelitian ini merupakan
wanita dan sampel yang diambil dalam
penelitian ini berusia 18-25
tahun.Penelitian ini berlangsung selama 6

minggu dengan periode dari tanggal 28
Juni sampai 05Agustus 2016 di Rumah
Sakit Umum Avisena Cimahi, Jawa
Barat.Sampel diperoleh berdasarkan
kriteria inklusif, yang kemudian diberikan
penjelasan tentang tujuan serta maksud
dari penelitian tersebut, dan kemudian
sampel menandatangani lembar
persetujuan menjadi sampel sebagai
bentuk informed consent untuk menjadi
sampel penelitian.

Perlakuan I

Sampe
l
Sebelum Sesudah Selisih
1 38 24 14
2 42 20 24
3 32 18 14
4 37 21 16
5 34 24 10
6 46 25 21
Mean 38,17 22,00 16,50
SD 5,154 2,757 5,128
Dilihat dari sampel data yang
diperoleh, dapat dideskripsikan
karakteristik sampel penelitian difokuskan
pada wanita dengan usia 18-25 tahun.
Sampel penelitian yang diberikan

dapatdideskripsikan beberapa karakteristik
sampel penelitian sebagai berikut.
Berdasarkan tabel1 dapat dilihat
bahwa sampel wanita pada
kelompokperlakuan I terdiri dari 3 orang
dengan usia 18-21 tahun (50%) dan 3
orang dengan usia 22-25 tahun (50%).
Sedangkan pada kelompok perlakuan II
terdapat 2 orang dengan usia 18-21 tahun
(33%) dan 4 orang berusia 22-25 tahun
(67%).

Tabel 1

Distribusi Sample Menurut Usia
Usia Kelompok
Perlakuan I

Kelompok
Perlakuan II
Jumlah % Jumlah %

18 –
21

3 50 2 33

22 –
25

3 50 4 67
Jumlah 6 100 17 100

Tabel 2

Distribusi Sample Menurut Berat Badan

Berat
Badan

Kelompok
Perlakuan I

Kelompok
Perlakuan II
Jumlah % Jumlah %
41 – 45 1 17 1 16
46 – 50
51 – 55
56 – 60
2
2
1

33
33
17
3
1
1

50
17
17
Jumlah 6 100 17 100

Pengukuran nilai acne pada
kelompok perlakuan I sebelum dan
sesudah intervensi pada tabel.3 dan
kelompok II sebelum dan sesudah
intervensi pada tabel.4, dengan
menggunakan GAGS diperoleh data seperti
yang tercantum dalam tabel.
Tabel 3
Nilai Acne Perlakuan I
Tabel 4
Nilai Acne Perlakuan II
Perlakuan II

Sampe
l
Sebelum Sesudah Selisih
1 28 8 20
2 36 15 21
3 38 12 26
4 35 11 24
5 39 14 25
6 42 16 26
Mean 36,33 12.67 23.83
SD 4,761 2,944 2,639
Untuk kelompok perlakuan II,pada
tabel 4 nilai penurunan Acne Vulgaris pada
kelompok perlakuan 1 sebelum dan
sesudah, dengan sampel sebanyak 6
orang. Sampel dengan nilai awal paling
sedikit sebelum diberikan intervensi MLDV
Manual Lymph Drainage Vodder
(MLDV)yaitu sampel no.1 dengan nilai 28,
sedangkan yang paling banyak terdapat
pada sampel no.6 dengan nilai 42.
Uji Hipotesis
Uji hipotesis yang digunakan dalam
penelitian iniuntuk menentukan ada
tidaknya perbedaan nilai acne vulgaris
sebelum dan sesudah pada kelompok

perlakuan I dan pada kelompok perlakuan
II menggunakan paired sample t-test.
Selain uji diatas, juga digunakan
independent sampel t-test.untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan nilai
penurunan acne sesudah melakukan
intervensi pada kelompok perlakuan I dan
kelompok perlakuan II.
Berdasarkan data yang diperoleh
dari tabel.3 dan tabel.4 didapat nilai mean
pada kelompok setelah perlakuan I adalah
22,00 dengan SD 2,757 sedangkan nilai
mean pada kelompok sesudah perlakuan II
adalah 12,67 dengan SD 2,944. Hipotesis
III didapat melalui independent sampel t-
test.dengan hasil p value = 0,011 dimana
nilai lebih kecil dari α (0,05) yang berarti
Ada perbedaan Laser dengan Manual
Lymph Drainage Vodder (MLDV) terhadap
penurunan tingkat derajat keparahan acne
vulgaris pada wanita.
Sebagai pokok pembahasan,
penelitian kedua intervensi ini dalam hal
statistic terlihat sangat signifikan dalam hal
penurunan tingkat derajat keparahan acne
vulgaris pada wanita, namun penurunan
nilai acne pada kedua perlakuan ini tidak
sama atau berbeda, karena penurunan nilai
acne pada perlakuan II (MLDV) menurun
lebih signifikan di banding perlakuan I
(Laser). Hasil ini dapat dilihat pada mean
perubahan. Hal inidisebabkan karena
intervensi MLDV bekerja dalam semua

aspek-aspek yang memicu timbulnya acne
seperti menstimulasi regenerasi sel dan
mencegah degenerasi sel dengan
caramenstimulasi aliran pembuluh vena
dan limfe secara maksimal dengan cara
mendekatkan jarak antara pembuluh darah
dengan sel minimal jarak 1/10 nm, agar
terjadi splitsing. Sehingga membran sel
terbuka, akibatnya memungkinkan protein
masuk ke dalam sel jika protein masuk ke
dalam sel maka akan terjadi sintesa
protein, dengan menghisap cairan
sehingga terjadi metabolisme yang
menyebabkan regenerasi sel pada kulit
wajah.
MLDV dapat meningkatkan imunitas
dimana saat pemberian MLDV kelenjar
limfe bekerja secara aktif membawa
bakteri menuju ke nodus limfatikus, di
dalam nodus limfatikus terjadi proses
fagositosis. Dengan memfagositosis
bakteri, saat bakteri masuk dengan sitem
limfe bakteri tersebut dialirkan ke nodus
yang bersifat untuk membunuh
bakteri,Pada akhirnya bakteri mati dan
tidak berkembang memperparah derajat
acne vulgaris juga sistem imunitas
meningkat.
MLDV juga membantu
menyeimbangkan hormon androgen yang
merupakan terjadinya peningkatan aktifitas
kelenjar sebasea,dengan cara menstimulasi
kerja dari hormon kepala pituitary gland
dan mengaktifkan sistem saraf dari
pituitary gland sehingga dapat
menyeimbangkan kerja hormon di otak.
Selain itu MLDV memiliki peran membawa
cairan makromolekul untuk dialirkan
kembali ke jantung pada sistem
pencernaan akan terjadi proses
memperbaiki kerja dari usus halus dan
usus besar sehingga jika sistem
pencernaan baik sistem nutrisi ke jaringan
akan lebih baik. MLDV juga menstimulasi
sistem saraf yaitu parasimpatis.Cara kerja

parasimpatis impuls melewati saraf
parasimpatik dengan sistem dua neuron.
Neuron yang pertama preganglionik dan
yang kedua disebut post ganglionik.
Neuron akan menjalar melalui beberapa sel
saraf yang dihubungkan dengan sinapsis.
Pada sinapsis dalam ganglia, neuron
preganglionik melepaskan asitelkolin,
sebuah neurotransmitter yang
mengaktifkan nicotinic
acetylcholin.kemudian mencapai organ dan
kelenjar target yaitu kelenjar subacea.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan pada bab sebelumnya, dapat
disimpulkan sebagai berikut :

  1. Laser dapat menurunkan tingkat
    derajat keparahan acne vulgaris pada
    wanita
  2. Manual Lymph Drainage Vodder
    (MLDV) dapat menurunkan tingkat
    derajat keparahan acne vulgaris pada
    wanita
  3. Ada perbedaan antara Laser dan
    Manual Lymph Drainage Vodder
    (MLDV) terhadap penurunan tingkat
    derajat keparahan acne vulgaris pada
    wanita, yaitu intervensi MLDV lebih
    baik dalam menurunkan tingkat derajat
    keparahan acnevulgaris pada wanita.
    Daftar Pustaka
    Arin K. Greene • Sumner A. SlavinBalaji
    Adityan, Rashmi Kumari, Devinder
    Mohan Thappa, 2009. Scoring
    System in Acne Vulgaris. India:
    Indian J Dermatol Venereol Leprol.
    volume 75.
    Avci, Pinar, 2013. Low- Level Laser (light)
    Therapy (LLLT) in skin;stimulating,
    healing, restoring. Boston; Semin
    Cultan Med Surg.
    Belanger, AY, 2003. Evidence-Based Guide
    to Therapeutic Physical Agen

.Philadelphia : Lippincott Williams
& Wilkins
Cunliffe, William .J, 1989.Treatment of
acne. In: Cunliffe, William J.
MartinDunitz Ltd,The United
Kingdom.
Djuanda, S., dan Sri A. S., 2003.Dermatitis.
Dalam: Djuanda, A. et al., ed. 3
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 126-
131.
Emverawati, M.P.N., 2011. Polimorfisme
Gen CYP 1A1 Pada Penderita Acne
Ringan di Makassar. Universitas
Hasanuddin. PhD Thesis
Fulton, J., 2009. Acne Vulgaris.eMedicine
Articles. Available from :
http://emedicine.medscape.com/ar
ticle/1069804 (Accesed : Desember

  1. 2013).
    Gregory A Nikolaidis, MD., 2015. Study of
    The Use Low Level Laser Therapy
    to Reduce Acne.Erchonia
    CorporationWestlake,
    DermatologyAustin, Texas, United
    States.
    GL VAIRO,et al., 2009 . Systematic Review
    of Efficacy for Manual Lymphatic
    Drainage Techniques in Sports
    Medicine and Rehabilitation: An
    Evidence-Based Practice Approach.
    Volume 17.
    Gabriella Fabbrocini, M. C. Annunziata, V.
    D’Arco, V. De Vita, G. Lodi, Håkan
    Brorson, 2015. Lymphedema
    Presentation, Diagnosis, and
    Treatment. Springer Cham
    Heidelberg New York Dordrecht
    London.
    Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit
    Kulit. Hipokrates, Jakarta : 109-
    113.

Harting M, dkk,.2008. Dermal
hypertrophies. Dalam: Wolff K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest

BA, Paller AS, Leffell DJ,editor.
Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine.Edisi ke-7. New
York: McGraw-Hill; h.550-6.
John Low, Ann Reed., 2000. Electrotherapy
Explaind Principles and Practic
ThirdEdition.Butterworth
Heinemann:Oxford.
Jose Maria, Maria de Fatima., 2001. A New
Approach to Manual Lymphatic
Drainage. Brazilian Camara of
Book.San Paulo ; Brazil.
Kurz, MD., 1986. Textbook of Dr.Vodder’s
Manual Lymphe Drainage. Karl F.
Haug Verlag·Heidelberg ;
Canada.Volume 2.
M Foldi, Roman H., 2005. Foundation of
Manual Lymphatic Drainage.
Elsevier Mosby, America.
M. C.Mauriello, F. Pastore, and
G.Monfrecola., 2010. Acne Scars:
Pathogenesis, Classification and
Treatment. Division of Clinical
Dermatology, Department of
Systematic Pathology, University of
Naples Federico II.
Mir Hadi Aziz-Jalali, Seyed Mehdi Tabaie,
and Gholamreza Esmaeeli Djavid

  1. Comparison of Red and
    Infrared Low Level laser Therapy in
    the treatment of Acne Vulgaris.
    Indian Jurnal of Dermatologi.
    Prof. Dr. Wolfram Sterry, 2011. Guideline
    on the Treatment of Acne. Berlin,
    Germanie.
    Pujianta, S (2010). Perbandingan antara
    Pemakaian Bedak Tabur dan
    Beddak Padta dengan Timbulnya
    Acne Vulgarir Pada Kryawati Toko
    Luewa Gading Surakarta. Skripsi
    Universitas Muhammadiyah
    Surakarta
    Rahmah, N., 2011. Apakah Terdapat
    Hubungan Polimorfisme Promoter
    Gen Tumor Necrosis Factor-Alpha
    (TNF-α) -308 dengan Akne Vulgaris

Ringan di Makassar. Universitas
Hasanuddin. PhD Thesis.
Rose, S.P. 2001. Principles of
Poultry Science. CAB
International.

Selway, J., 2010. Case Review in
Adolescent Acne: Multifactorial
Considerations to Optimizing
Management. Dermatology
Nursing.22(1). Available from:
http://www.medscape.com/viewart
icle/718696_2 [Accessed: March
15, 2013]
Siregar R.S.,
2005.Kandidiasis.Penyakit Jamur
Kulit.Jakarta: EGC.

Smeltzer, S.C & Bare, B.G., 2002, Buku
Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Volume
2, Alih Bahasa Kuncara, H.Y, dkk.
Jakarta: EGC.
Starked Chay, 2005. Theurapeutic
Modalities (Fourth Edition).
Athens, Ohio.

Strauss et al., 2007. Guidelines of care for
acne vulgaris management. J AM
ACAD DERMATOLOGI. Volume 56.
Tortora, G.J. dan Derrickson, B.H.
2009.Principles of Anatomy and
Physiology.Twelfth Edition.Via
Sergio Pansini 5, 80133 Napoli,
Italy
Wasitaatmadja, S.M., 2007. Akne, Erupsi
Akneiformis, Rosasea,
Rinofima.Dalam : Djuanda, A.
(eds). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi Kelima.Jakarta : Balai
Penerbit FK UI.
William E. Prentice, 2008. Theurepeutic
Modalities for Sport Medicine dan
Athletic Training (Sixth Edition).
The McGraw-Hill Companies.
Amerika, New York.
Zaenglein AL, Graber EM, Thiboutot DM,
Strauss JS 2008.Acne vulgaris and
acneiform eruptions. Dalam: Wolff
K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest

BA, Paller AS, Leffel DJ,
penyunting. Fitzpatrick’s
dermatology in general
medicine.Edisi ke-7. New York: Mc
Graw Hill; 2008. h. 690-703

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *